
Pada suatu hari, ada sekelompok kumpulan anti madzhab yang terdiri dari seorang pemuda dan kawan-kawannya yang telah datang mengunjungi Syeikh Sa’id Ramadhan..
Antara perbualan antara mereka :
Syeikh Sa’id : Bagaimana cara anda memahami hukum Allah ? Apakah
anda langsung mengambil dari Al-Qur’an dan Sunnah atau kah anda mengambilnya
dari para imam mujtahid ?
Anti madzhab : Saya akan meneliti pendapat para imam mujtahid serta
dalil-dalilnya kemudian saya akan mengambil keterangan yang dalilnya paling
mendekati Al-Qur’an dan Sunnah.
Syeikh Sa’id : Seandainya anda mempunyai wang 5000 Lira Syria dan wang
tersebut anda simpan selama enam bulan, lalu anda menggunakannya membeli
barang-barang untuk diperdagangkan. Bilakah anda membayar zakat harta
perdagangan tersebut ? Apakah setelah enam bulan kedepan ataukah setelah satu
tahun ? (Rupanya Syeikh Sa’id ingin mengetahui apakah pemuda ini langsung boleh
menjawab atau Syeikh ini ingin tahu bagaimana cara pemuda itu mencari
dalil-dalilnya, kerana dirumah Syeikh ini ada perpustakaan).
Anti madzhab : Maksud tuan apakah harta perdagangan itu wajib dikeluarkan zakat ?
Syeikh Sa’id : Saya sekadar bertanya dan saya berharap anda menjawabnya dengan
cara anda sendiri. Perpustakaan ada didepan anda. Disitu terdapat kitab-kitab
tafsir, kitab-kitab hadits dan juga kitab-kitab para imam mujtahidin.
Anti madzhab : Wahai Tuan ! Ini adalah masalah agama, bukan soal mudah yang
dapat dijawab seketika. Memerlukan waktu untuk mempelajarinya dengan seksama
(teliti). Kedatangan kami kesini adalah untuk membahas masalah yang lain !
(Rupanya pemuda ini berdalih untuk menjawab dan mencari dalil-dalilnya atas
pertanyaan Syeikh ini walaupun didepan mereka ada perpustakaan., pen.)
Syeikh Sa’id : Baiklah..! Apakah setiap muslim wajib menyelidiki dalil-dalil
para imam mujtahid kemudian mengambil mana yang lebih sesuai dengan Al-Qur’an
dan hadits ?
Anti madzhab : Ya benar !
Syeikh Sa’id : Kalau begitu semua orang harus memiliki kemampuan ijtihad
seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab. Bahkan mereka harus memiliki
kemampuan yang lebih sempurna kerana orang-orang yang mampu memutuskan pendapat
para imam berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sudah barang tentu lebih pandai dari
semua imam itu.
Anti madzhab : Sesungguhnya manusia itu ada tiga macam : Muqallid, Muttabi’ dan
Mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab kemudian memilih mana
yang lebih dekat kepada Al Qur’an dan Sunnah adalah Muttabi’ yakni pertengahan
antara Mukallid dan Mujtahid.
Syeikh Sa’id : Apa kewajiban Muqallid ?
Anti madzhab : Dia taqlid kepada imam mujtahid yang sesuai dengannya.
Syeikh Sa’id : Apakah berdosa jika ia taqlid kepada seorang imam secara terus
menerus dan tidak mau pindah kepada imam yang lain ?
Anti madzhab : Ya, hal itu hukumnya haram !
Syeikh Sa’id : Kalau yang demikian itu haram, apakah dalilnya ?
Anti madzhab : Dalilnya adalah kerana dia menetapi sesuatu yang tidak pernah
diwajibkan oleh Allah ‘azza wajalla.
Syeikh Sa’id : Dari tujuh macam qiro’at, qiro’at apa yang anda pakai untuk
membaca Al Qur’an ?
Anti madzhab : Qiro’at imam Hafash .
Syeikh Sa’id : Apakah anda selalu membaca Al Qur’an dengan qira’at imam Hafash
ataukah anda membaca Al Qur’an setiap harinya dengan qiro’at yang berbeza-beza
?
Anti madzhab : Tidak, saya selalu membaca Al-Qur’an dengan qiro’at imam Hafash
saja.
(golongan anti madzhab ini sendiri memegang satu macam qiro’at dari tujuh macam
yang ada, mengapa mereka tidak mengharamkan hal ini ? Sedangkan golongan
selain golongannya bila memegang satu amalan dari satu madzhab terus menerus
maka mereka haramkan, beginilah sifat mereka selalu membenarkan golongannya
sendiri dan mensesatkan golongan lainnya bila tidak sefahaman dengan mereka,
walaupun tidak ada dalil yang mengharamkannya ).
Syeikh Sa’id : Mengapa anda selalu menetapi qiro’at imam Hafash ?, sedangkan
menurut riwayat yang diterima dari Nabi saw. secara mutawatir bahwa Allah hanya
mewajibkan anda untuk membaca Al-Qur’an !
Anti madzhab : Karena saya belum mempelajari qiro’at-qiro’at yang lain dengan
sempurna. Dan tidak mudah bagi saya untuk membaca Al Qur’an kecuali dengan
qiro’at imam Hafash !
Syeikh Sa’id : Demikian pula halnya dengan orang yang mempelajari fiqh menurut
madzhab Syafi’i. Dia juga tidak cukup sempurna dalam mempelajari
madzhab-madzhab yang lain dan tidak mudah baginya untuk mempelajari hukum agama
selain dari madzhab Syafi’i. Kalau anda mewajibkan kepadanya untuk mengetahui
ijtihad para imam dan mengambil semuanya, ini berarti anda pun wajib mempelajari
semua qiro’at itu. Kalau anda beralasan tidak mampu, maka begitu juga halnya si
mukallid tadi. Singkatnya kami ingin mengatakan, apa alasan anda sehingga
mewajibkan para mukallid untuk berpindah-pindah dari madzhab yang satu ke
madzhab yang lain ?, sedangkan Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian !
Artinya sebagaimana Allah swt. tidak pernah mewajibkan untuk mengikuti satu
madzhab secara terus-menerus, begitu juga Allah tidak pernah mewajibkan untuk
terus menerus pindah satu madzhab ke madzhab yang lain !
Anti madzhab : Sesungguhnya yang haram itu ialah kalau seseorang mempunyai
I’tikad (keyakinan) bahwa Allah memerintahkannya untuk terus-menerus menetapi
madzhab tertentu.
Syeikh Sa’id : Ini masalah lain dan itu memang benar, tidak ada perbedaan pendapat.
Akan tetapi apakah ia berdosa kalau terus-menerus mengikuti imam tertentu
sedangkan dia juga tahu bahwa Allah tidak pernah mewajibkan yang demikian
kepadanya ?
Anti madzhab : Kalau seperti itu tidaklah dia berdosa !
Syeikh Sa’id: Tetapi buku Syeikh Khajandi yang anda pelajari itu menyebut- kan
hal yang berbeda dengan apa yang anda katakan. Khajandi secara tegas
mengharamkan yang demikian bahkan pada beberapa bagian dari buku itu ia
menyatakan kafir kepada orang yang terus-menerus mengikuti seorang imam
tertentu dan tidak mau pindah kepada yang lain !
Anti madzhab : Mana…,? Selanjutnya ia berpikir tentang tulisan Syeikh Khajandi
yang berbunyi : “Bahkan siapa saja yang mengikuti seorang imam secara
terus-menerus dalam setiap masalah, maka dia termasuk orang fanatik yang salah
serta telah taqlid secara membabi buta dan dialah orang yang telah
mencerai-beraikan agama dan menjadikan diri mereka berkelompok-kelompok”.
Lalu dia berkata bahwa yang dimaksud dengan mengikuti secara terus-menerus
disitu adalah mengi’tikadkan wajibnya yang demikian dari sudut pandang agama.
Didalam pernyataan itu terdapat pembuangan.
Syeikh Sa’id : Apakah buktinya kalau Syeikh Khajandi itu bermaksud demikian?
Mengapa anda tidak mengatakan bahwa Syeikh Khajandi itu telah melakukan kesalahan
?
(Terhadap pertanyaan Syeik Sa’id ini kelompok anti madzhab itu tetap bersikap keras
bahwa apa yang dikatakan Syeikh Khajandi itu benar kerana didalam ucapannya itu
terdapat pembuangan kalimat.)
Dr. Sa’id melanjutkan : Akan tetapi meskipun anda mengatakan adanya
pembuangan kalimat pada ucapan Syeikh Khajandi itu (yakni kalimat apabila dia
mengi’tikadkan wajibnya mengikuti seorang imam secara terus menerus ) tetap
saja ucapan tersebut tidak memiliki makna apa-apa kerana setiap muslim
mengetahui bahwa seorang imam tertentu dari keempat imam madzhab itu bukanlah
termasuk kewajiban syari’at melainkan atas dasar pilihan orang itu sendiri.
Anti madzhab: Bagaimana boleh yang demikian ? Saya mendengar dari banyak orang dan
juga dari sebagian ahli ilmu bahwa diwajibkan secara syari’at mengikuti madzhab
tertentu secara terus menerus dan tidak boleh berpindah kepada madzhab yang
lain !
Syeikh Sa’id : Cuba anda sebutkan kepada kami nama satu orang saja dari
kalangan awam atau ahli ilmu yan menyatakan demikian !
(Terhadap permintaan Syeikh Sa’id ini kelompok anti madzhab itu terdiam
sejenak. Ia hairan kalau-kalau ucapan Syeikh Sa’id itu benar, dan dia [anti
madzhab] pun mulai ragu-ragu tentang kebenaran atas pernyataannya sendiri yakni
perkataan mereka bahwa sebagian besar manusia mengharamkan berpindah-pindah
madzhab.).
Selanjutnya
Syeikh Sa’id mengatakan : Anda tidak akan menemukan satu orangpun
yang beranggapan keliru seperti ini. Memang pernah diriwayatkan bahwa pada masa
terakhir Dinasti Utsmaniyyah mereka keberatan kalau ada orang yang bermadzhab
Hanafi pindah kemadzhab lain. Hal ini kalau memang benar adalah termasuk
fanatik buta yang tercela.
Demikianlah sebagian isi dialog antara Syeikh Sa’id Ramdhan al-Bhuti dengan anti
madzhab. Setelah itu mereka melanjutkan dialog tentang masalah yang lain.